MUSI BANYUASIN, indosumatera.com – Tabir gelap bisnis haram pengangkutan minyak ilegal di Bumi Serasan Sekate kembali terkuak. Sebuah skema "ganti kulit" terendus di lapangan: jaringan armada yang sebelumnya dikenal di bawah komando Bobon Gareng, diduga kuat kini bermutasi menjadi nama TRIAS, Kamis (30/05/2026).
Perubahan nama ini disinyalir hanyalah taktik untuk melanggengkan distribusi minyak hasil olahan ilegal yang bergerak secara masif, terstruktur, dan seolah tak tersentuh.
Kehadiran sindikat ini bukan sekadar isu, melainkan fakta telanjang di jalanan. Sementara aparat penegak hukum tampak kehilangan taringnya, iring-iringan truk pemuat barang haram ini terus menari-nari melintasi jalur utama kabupaten tanpa hambatan berarti.
Rabu (29/04/2026) menjadi bukti betapa kokohnya rasa aman para mafia ini di wilayah hukum Muba. Tiga unit truk pengangkut minyak ilegal hasil penyulingan rakyat meluncur mulus dalam satu konvoi yang kompak. Tanpa ada rasa takut terhadap patroli petugas, mereka melintasi jalan Macan Sakti menuju Pinago, Desa Sereka, Kecamatan Babat Toman.
Identitas armada ini telah terekam jelas sebagai bukti otentik bagi siapa pun yang masih berani membantah adanya aktivitas terorganisir ini:
• Truk Isuzu Elf (Kepala Putih/Bak Putih): Nomor Polisi BG 8549 KN
• Truk Isuzu Elf (Kepala Putih/Bak Hijau): Nomor Polisi BE 8971 LV
• Truk Isuzu Elf (Kepala Hijau Muda/Bak Hijau Tua): Nomor Polisi BG 8711 KL
Ketiga truk ini bukan sekadar kendaraan angkut; mereka adalah simbol nyata dari lemahnya pengawasan hukum di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin.
Yang mengejutkan adalah pengakuan langsung dari para "pemain lapangan" (sopir). Saat dikonfirmasi mengenai siapa otak di balik pengiriman ini, mereka secara terang-terangan menyebut satu koordinasi yang sama.
"Kami cuma bawak minyak masakan pak, nak dibawak keluar Muba. Lokasi tepatnya di mana, kami cuma nunggu informasi lebih lanjut di jalan," ujar salah satu sopir dengan nada santai, seolah aktivitas kriminal tersebut adalah pekerjaan yang legal.
Lebih jauh lagi, ia mengungkap fakta krusial mengenai perubahan nama jaringan mereka. "Kalau pemilik kami dak tau, tapi setau kami armada ini di bawah kendali Trias. Dulu namanya Bobon Gareng, sekarang ganti nama," tambahnya.
Peralihan nama dari Bobon Gareng ke Trias menunjukkan adanya upaya sistematis untuk memutus rekam jejak lama, sementara pola pergerakan di lapangan tetap sama: menggunakan jalur utama secara terang-terangan dengan sistem koordinasi yang rapi.
Pertanyaan besar kini tertuju pada jajaran kepolisian setempat. Bagaimana mungkin konvoi tiga truk besar dengan muatan ribuan liter minyak ilegal bisa melenggang bebas tanpa ada tindakan pencegatan di jalur protokol?
Bukti nyata di lapangan menunjukkan bahwa jaringan armada ini bukan lagi sekadar pemain kecil, melainkan sindikat yang memiliki "kekebalan" tertentu. Jika armada dengan nomor polisi yang jelas dan nama koordinator yang sudah disebut terang-terangan masih bisa melintas, maka wajar jika publik berasumsi bahwa hukum di Muba telah "bertekuk lutut" di bawah ketiak para mafia.
Masyarakat kini menanti keberanian Kapolda Sumatera Selatan dan Kapolres Muba untuk menyapu bersih para dibalik "koordinator" seperti Trias (eks Bobon Gareng) yang menjadi jantung dari sirkulasi minyak ilegal ini.
Selama para aktor intelektual dan koordinator armada ini masih bebas mengatur ritme konvoi di jalanan, selama itu pula hukum di Musi Banyuasin akan dianggap sebagai macan kertas yang tak punya nyali menghadapi sindikat minyak ilegal. (Tim Liputan media)

Posting Komentar untuk "Dugaan Jaringan Armada Minyak Ilegal Bobon Gareng Beralih Nama Menjadi Trias: Bukti Nyata Aktivitas Terstruktur dan Sistematis, Hukum di Muba Seakan Tak Berdaya!"